About Me

bandung, jawa barat, Indonesia

Wellcome to my World



Tampilkan postingan dengan label dunia international. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dunia international. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Maret 2010


Mengenal Papua Nugini, negeri yang hanya memiliki 1800 tentara dan polisi

SBY dan Presiden Papua Nugini

Moresby - Papua Nugini, negeri tetangga yang berbatasan langsung dengan Papua terus mengejar ketertinggalan. Namun di tengah upaya untuk mensejajarkan diri dengan negara lain, kesederhanaan tetap tampak di negara bekas jajahan Australia ini.

Kesan sederhana tampak pertama kali saat kita mendarat di Bandara International Jackson Port Moresby. Bandara internasional satu-satunya milik Papua Nugini ini tak ubahnya seperti bandara di kawasan Timur Indonesia semisal Bandara di Ternate, Maluku.

Sepanjang jalan di negeri yang berpenduduk kurang dari 2 juta ini, berjajar rumah-rumah sederhana yang berbentuk panggung dengan bahan baku utama kayu dan seng. Jalan utama kota Port Moresby, Ibukota Papua Nugini juga tak semulus jalan di kota Kabupaten Banyuwangi di Indonesia, misalnya. Jika jalanan di kota besar berwarna hitam mengkilat, maka di Port Moresby berwarna abu-abu keputihan.

Saat upacara penyambutan di bandara, didengarkan dentuman suara meriam tanda kehormatan kepada SBY. dan ternyata, meriam itu adalah pinjaman dari Indonesia. Tak cuma itu, metal detector yang dipakai di Crown Plaza Hotel dalam setiap acara SBY, juga dipinjamkan langsung dari Indonesia. Ada wacana, kedua alat itu akan disumbangkan ke Papua Nugini.


Saat Presiden SBY dan rombongan dari Indonesia lewat, warga di sepanjang jalan tampak girang melambaikan tangan, tak peduli tua muda atau pun anak-anak. Tak sedikit dari mereka yang tidak memakai alas kaki.

Tak banyak dijumpai bangunan pemerintahan di negeri yang cuma memiliki 1.800 tentara dan polisi ini.Sepanjang kanan kiri jalan cuma didominasi oleh rumah-rumah warga, pertokoan sederhana dan gudang-gudang. Yang unik, semua bangunan di negeri ini memiliki pagar tinggi dengan kawat berduri di atasnya. Kenapa bisa seperti itu? "Di sini tingkat kriminalitasnya tinggi," kata Sutar, pegawai Konsulat Indonesia di Fenimo, Papua Nugini, Jumat (12/3/2010).


Sutar menjelaskan, tingkat pengangguran di negeri berbukit ini mencapai 60-90 persen dari total jumlah penduduk. Karena inilah, tingkat kriminalitas sangat tinggi. Hal ini diperparah dengan jumlah aparat keamanan yang setara dengan 3 batalyon saja.

Tak ada restoran mewah atau pun mal di negeri ini. Yang ada cuma toko-toko kelontong atau mini market sederhana yang menjual kebutuhan sehari-hari. Yang unik, di mini market yang detikcom sambangi, di mana-mana terdapat peringatan bahwa mini market tersebut dilengkapi dengan video CCTV dan peringatan agar warga tidak mengambil barang dagangan tanpa bayar. Ada juga peringatan untuk tidak meninggalkan barang berharga di tempat penitipan barang.

Di malam hari, jarang sekali pendatang yang keluar kamar hotel. Kondisi kota yang agak gelap karena tak banyak lampu di jalanan membuat kota ini makin rawan terjadinya kriminalitas.

Setidaknya ada 3 hotel besar di Papua Nugini, yakni Crown Plaza Hotel, Quality Hotel dan Airways Hotel. Ketiga hotel ini milik orang Australia. Para tamu hotel tersebut pun didominsi oleh orang-orang asing yang sedang bisnis tambang, gas, serta kekayaan alam Papua Nugini lainnya.

Australia mendominasi denyut nadi bisnis di Papua Nugini. Selain di bidang pariwisata dan tambang, Australia juga menancapkan bisnis di bidang teknologi. Perusahaan seluler terbesar di Papua Nugini, Digitec, adalah milik Pengusaha Australia. Dan masih banyak lagi bidang-bidang lain yang dikuasai oleh negeri kanguru.

Papua Nugini memiliki tiga bahasa utama yang digunakan untuk percakapan sehari-hari, yakni bahasa Nuigini, Inggris dan Portugis. Apa bedanya bahasa Papua Nugini dengan Papua? "Kalau kami cuma punya satu bahasa asli, sementara Papua punya banyak sekali bahasa daerah," kata salah seorang petugas Quality Hotel tempat kami menginap. Menurut karyawan hotel tersebut, bahasa Inggris banyak dikuasai oleh Masyarakat Papua Nugini. Hal ini wajar karena negara penjajahnya, Australia juga menggunakan bahasa Inggris.

Jika kita bertandang ke Papua Nugini, ada beberapa produk Indonesia yang juga diminati. Di antaranya adalah Indomie dan Aqua. Satu botol Aqua ukuran sedang, dijual seharga 6 Kina (mata uang Papua Nugini) atau sekitar Rp 18.000 (1 Kina: Rp 3.000). Harga barang-barang di negara panas bersuhu sekitar 40 derajat celsius tersebut tak jauh beda dengan di Australia, sama-sama mahal. Sedangkan nama Indomie ditambah dengan embel-embel makanan khas setempat, sehingga menjadi Indomie Karuyuk. Karuyuk adalah makanan khas Papua Nugini berbahan dasar ayam.

Negara yang merdeka tahun 1975 ini terus berbenah. Demi mengejar ketertinggalan, berbagai kerjasama dengan negara asing terus dilakukan, termasuk dengan Indonesia.

"Kami senang dengan kehadiran Presiden SBY dan rombongan ke negeri kami. Kami pastikan, kerjasama dengan Indonesia tak cuma dalam bidang pertanian saja, melainkan Industri, pertahanan dan lain sebagainya," kata PM Michael Somare saat jumpa pers usai menggelar pertemuan bilateral dengan SBY.

Sumbre : Detik



Selengkapnya...


Michael Jackson’s This Is It ,sebuah film dokumenter michael jackson


"I’m starting with the man in the mirror, I’m asking him to change his ways, and no message could have been any clearer, if you wanna make the world a better place, take a look at yourself, and then make a change." ~ Michael Jackson: Man in The Mirror

Michael Jackson’s This Is It, merupakan sebuah dokumenter berisikan proses dibalik layar persiapan konser Michael yang seharusnya dijadwalkan akan berlangsung di London. Para penggemarnya di seluruh dunia akan di suguhkan tayangan yang belum pernah diperlihatkan ke khalayak umum sebelumnya. Ratusan cuplikan sesi latihan, interview, dan kegiatan di balik panggung semua dihadirkan menjadi sebuah karya terakhir dari Michael. “This Is It” dipenuhi dengan orang-orang bertalenta tinggi dibidangnya, selain Michael Jackson sendiri, ada penyanyi, penari latar, pembuat film, dan tim kreatif, yang kesemuanya berkerja sama untuk membuat sebuah konser yang tak akan pernah terlupakan.



Awalnya Tour “This Is It” sebetulnya akan menjadi “comeback” bagi sang raja pop, Michael Jackson. Setelah sebelumnya, terakhir kali menggelar konser besar pada “History World Tour” yang berlangsung 2 tahun dari 1996 sampai 1997. Sayangnya konser ini tak pernah terjadi, karena Michael lebih dahulu menutup usianya karena penyakit yang dideritanya. Namun kenangan Michael akan tetap ada lewat hadiah terakhirnya di film ini. Sebuah janji akan pementasan spektakuler, ini memang bukan konser yang sebenarnya, lebih dari sebuah gladi resik, sesungguhnya ini adalah konser pribadi bagi kita semua dari Michael untuk para fansya di seantero dunia.

Terbukti film ini telah berhasil mengajak kita semua melihat dan merasakan momen-momen terbaik dari seorang raja pop, legenda yang lagu-lagunya akan dikenang sepanjang masa. Lewat film dokumenter yang berisikan interview, sesi latihan, dan cuplikan di belakang panggung ini, Michael Jackson mempersembahkan kado terakhirnya untuk para fansnya yang tercinta di seluruh dunia, sesuai dengan apa yang dia janjikan. Walau konser yang sedianya akan berlangsung sampai 50 pertunjukkan dengan artis pendukung yang dikumpul dari seluruh duni ini tidak tercapai, namun setidaknya pesan “cinta” yang seperti biasa di sampaikan di konser-konser Michael terdahulu bisa tersampaikan lewat film yang serentak di tayangkan hampir di seluruh dunia, termasuk Indonesia ini.



Amazing!! Film ini ternyata jauh lebih bagus dari apa yang diperkirakan, sebuah dokumenter yang dikemas dengan sangat luar biasa. Kita seperti berada di konser yang sebenarnya, duduk paling depan, dan tidak sadar akan ikut bernyanyi dan bergoyang bersama Michael. Perasaan itulah yang justru hadir ketika menyaksikan aksi Michael melakukan sesi latihan bersama tim yang terdiri dari kumpulan pemain musik handal dan penari latar terbaik. Suasana di tengah-tengah konser jadi benar-benar terasa ketika Michael bernyanyi dan menari layaknya ini adalah sebuah konser, bukannya sebuah latihan. Kita akan diajak lebih dalam melihat sebuah pekerjaan yang memerlukan kesempurnaan, ketekunan, dan keuletan sebagai seorang entertainer, dan Michael melakukan itu dengan sangat baik.

Sekali lagi, film ini akan membuat kita ikut bernyanyi lewat lagu-lagu yang dipersiapkan untuk konser akbarnya itu. Lagu-lagu legendaris seperti “Black or White”, “Beat it”, “Billie Jean”, dibawakan oleh Michael dengan sangat perfect. Disini diperlihatkan sisi perfectionis seorang Michael, bait demi bait lagunya harus terdengar sempurna olehnya, jika tidak dia akan minta untuk mengulang lagu tersebut. Michael memang ingin konsernya ini menjadi konser terbaiknya, sempurna untuk para fansnya.



Sesi latihan yang sebenarnya sudah menarik dengan tembang ajaib milik Michael ditambah tarian-tarian khas nya, penampilan band yang enerjik, dan penari latar yang bergerak kesana-kemari tak kenal lelah ini, disempurnakan dengan adanya visual-visual yang indah. Suasana konser pun makin jadi terasa, ketika visual berupa video-video yang disiapkan secara kreatif dan brilian ini disatukan ke dalam sesi latihan Michael, lupakan kalau ini adalah film dokumenter, ini adalah konser nyata Michael Jackson.

Bayangkan sebuah film klasik disatukan dengan kehadiran Michael, yang nantinya menjadi video pembuka untuk “Smooth Criminal”, atau bersiaplah untuk menutup mata ketika mayat-mayat hidup bermunculan ketika lagu “Thriller” diperdengarkan. Visualisasi yang dipersiapkan Michael dengan tim-nya ini dikerjakan dengan sangat serius, tidak sia-sia karena pada akhirnya hasil yang diinginkan pun menjadi maksimal. Menambah hidup lagu yang nantinya akan dibawakan dalam konser “This Is It”.



Secara keseluruhan persembahan terakhir Michael Jackson yang terbalut lewat dokumenter ini adalah sebuah suguhan yang luar biasa, tak pernah terbayangkan sebelumnya akan sebagus ini. Atraksi Michael, artis-artis pendukungnya, serta tata panggungnya berhasil memberi kejutan kepada para penontonnya. Sebuah gladi resik yang disulap menjadi tontonan yang bukan lagi total namun juga sempurna dalam menghibur. Sebuah keajaiban yang memang hanya bisa disaksikan di film ini, sekali lagi lupakan kalau ini sebuah dokumenter, ini adalah konser impian dari orang yang sangat mencintai kedamaian dan planet bumi ini. Michael, Rest in Peace.

Tak bisa dibayangkan seperti apa jadinya konser ini jika terlaksana, mungkin akan jadi konser terhebat sepanjang masa. Penggemar atau bukan, film ini wajib ditonton. Enjoy!!


http://www.thisisit-movie.com/
http://www.imdb.com/title/tt1477715/

Trailer




Selengkapnya...


10 Tempat Berdagang Retail Paling Mahal di Dunia!
Spoiler for 10. Ginza, Tokyo, Japan:


Price-per-square foot, per year: $794
Price in 2007: $683




The Ginza District adalah percampuran antara kebudayaan baroq revivalisme Jepang, desain ultra-modern, bangunan gedung perusahaan modern seperti Sony Building dan bangunan Georgian Eropa. Kepercayaan konsumen adalah pertanyaan pada 2009 ini. Meskipun orang Jepang berpengalaman menghadapi resesi, tetap saja tabungan orang Jepang biasanya sangat banyak selama masa-masa sulit.

Spoiler for 9. New Bond Street, London, U.K.:

Price-per-square foot, per year: $810
Price in 2007: $813



New Bond Street, perluasan dari old Bond Street di West End, dulu adalah salah satu contoh kawasan pinggiran. Tetapi sekarang, jalan ini merupakan salah satu properti paling mahal di dunia. Perlambatan ekonomi Inggris akibat resesi, mengakibatkan adanya penurunan tetapi hanya sedikit.


Spoiler for 8. Grafton Street, Dublin, Ireland:

Price-per-square foot, per year: $824
Price in 2007: $668



Pertumbuhan ekonomi Irlandia menyebabkan meningkatnya belanja konsumsi. Ketika beberapa Irish menggunakan euronya untuk liburan ke New York, sebagian besar lainnya sebagaimana pengunjung mancanegara lain menuju Grafton Street, yang berlokasi di pusat kota Dublin sampai Trinity College. Namun melambatnya kembali pertumbuhan Irlandia dan beberapa masalah perbankan, sedikit menghambat pertumbuhan ekonomi di jalan ini untuk tahun depan.


Spoiler for 7. East 57th Street, New York City, N.Y.:

Price-per-square foot, per year: $900
Price in 2007: $900



East 57th Street berada diantara tempat yang paling strategis untuk retailer di New York, yaitu Madison Avenue and Fifth Avenue. Pengunjung menginap di Four Seasons ,salah satu hotel termahal di Manhattan dimana jika mereka ingin belanja, cukup hanya dengan melangkahkan kaki di depan pintu mereka. Banyak pilihan tersedia, dimulai dari Tiffany & Co. pojokan Fifth dan bergerak turun ke Tourneau di ujung Madison.


Spoiler for 6. Via Condotti, Rome, Italy:

Price-per-square foot, per year: $909
Price in 2007: not available



Kunci untuk harga retail sedang stagnan. Dimanapun tempat yang terdapat banyak turis berkumpul sepertinya adalah tempat dimana ditemukannya retail properti termahal. Itu membuat Via Condotti, dekat the Spanish Steps, adalah tempat untuk fine shops. Jalan yang pernah dikisahkan beberapa penulis seperti Lord Byron, John Keats and Percy Shelley sekarang menjelma menjadi tempat penjualan barang2 mewah seperti Valentino and Hermes.


Spoiler for 5. Via Montenapoleone, Milan, Italy:

Price-per-square foot, per year: $983
Price in 2007: not available



Milan adalah ibukota fashion Italia, dan Via Montenapoleone adalah jalan yang menawarkan pusat perbelanjaan terbaik. Semua yang kamu bayangkan dari Gucci dan Louis Vuitton hingga Prada and Salvatore Ferragamo dapat ditemukan disini.


Spoiler for 4. Avenue des Champs-Elysees, Paris, France:

Price-per-square foot, per year: $1,134
Price in 2007: $922



Sedikit sekali jalan di dunia yang terintegrasi dengan high-end fashion seperti the Champs-Elysees. Properti di kawasan itu berkembang menjadi mega stores, seperti the 20,000-square-foot Louis Vuitton showroom danthe Virgin Atlantic shops, dimana itu adalah toko paling besar mereka di seluruh Eropa.


Spoiler for 3. Madison Avenue, New York City, N.Y.:

Price-per-square foot, per year: $1,200
Price in 2007: $1,200



Madison Avenue adalah lokassi termahal kedua di New York City. Bagaimanapun tidak terlihat bahwa kawasan itu sekuat Fifth Avenue untuk tahun2 mendatang. Menurut Gene Spiegelman, executive director of retail services at Cushman & Wakefield, kesempatan disitu sudah hilang dan retailer mencoba meminta harga yang lebih murah.


Spoiler for 2. Causeway Bay, Hong Kong, China:

Price-per-square foot, per year: $1,784
Price in 2007: $1,213



Hong Kong itu mahal. Hal itu bagus untuk uang dan cukup sulit menemukan lahan kosong disana untuk dibangun.Namun demikian, tidak menghentikan area itu sebagai pusat perbelanjaan utama di Asia Tenggara. Yang banyak terlihat adalah retailer Jepang, seperti 13-story Sogo department store, sebagai toko yang paling dikenali di kawasan itu.


Spoiler for 1.Fifth Avenue, New York City, N.Y.:

Price-per-square foot, per year : $1,850
Price in 2007 : $1,500



Meski ada banyak atraksi yg ditawarkan New York, tetapi sulit menemukan tempat orang berkumpul yang paling ramai selain di Fifth Avenue dari Central Park sampai Bryant Park. Meskipun itu melewati Saks, Cartier, Bergdorf Goodman sampai the Apple Store, branding Fifth Avenue berpengaruh ke retailer dan berpeluang mendapatkan penghasilan besar. Hasilnya, harga sewa disini paling mahal di dunia dan tetap bertahan hingga sekarang.


Selengkapnya...

Kamis, 18 Maret 2010


Rupiah Makin Turun
Jakarta (ANTARA News) - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Senin pagi merosot hingga menembus angka Rp9.400 per dolar, karena pelaku pasar terus melepas rupiah, akibat ketakutan terhadap pertumbuhan ekonomi global.

Kekhawatiran atas pertumbuhan ekonomi global yang belum pasti membuat pelaku asing dan lokal di pasar uang aktif melepas rupiah dan membeli dolar sehingga menekan mata uang Indonesia, kata pengamat pasar uang, Edwin Sinaga di Jakarta, Senin.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar merosot menjadi Rp9.415-Rp9.425 per dolar dibanding penutupan akhir pekan Rp9.380-Rp9.390 atau turun 35 poin.

Kepanikan pelaku, lanjut dia mengakibatkan mereka lebih suka melepas rupiah dan membeli dolar, sehingga rupiah terpuruk hingga di atas Rp9.400 per dolar.

Tekanan pasar yang cukup kuat mengakibatkan rupiah terus tertekan yang dikhawatirkan akan mendekati angka Rp9.500 per dolar, ucapnya.

Menurut dia, Bank Indonesia (BI) kemungkinan akan melakukan intervensi pasar untuk menahan lajunya koreksi rupiah terhadap dolar AS.

BI akan melepas cadangan dolarnya agar rupiah tidak terus tertekan, dimana cadangan devisa BI mencapai 69,6 miliar yang dinilai cukup kuat, ucapnya.

Ia mengatakan, BI tidak menginginkan rupiah terpuruk hingga di atas Rp9.500 per dolar, karena khawatir apabila posisi rupiah mencapai angka Rp9.500 per dolar maka tekanan pasar akan makin menguat.


Selengkapnya...

Entri Populer

Pengikut

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More